Minggu, 22 Mei 2011

Tentang Revolver: Album Puncak The Beatles

Disclaimer: saya bukanlah penggemar the Beatles. Jutaan orang sudah memuja kelompok musik dari Liverpool ini. Jutaan kopi dari semua album kelompok ini ada di hampir semua rumah tangga pecinta musik di Barat dan di Timur. Ribuan buku, disertasi, tesis dan artikel sudah pernah ditulis tentang musik kelompok ini. Dan saya tidak keberatan dengan semua itu.




anakamalam-Meminjam kata-kata penulis musik dan novelis Chuck Klosterman tentang keberadaan band yang kurang terlalu dihargai (underrated) atau terlalu berlebihan dihargai (overrated), bagi saya the Beatles adalah band yang memang sudah pada tempatnya dinilai (properly rated). Kelompok musik ini tidak saja produktif namun luar biasa bermutu. Beberapa waktu yang lalu Remy Sylado bilang ke saya kalau John Lennon adalah jenius kelas satu yang tidak bisa dicari gantinya—pernyataan yang tidak terlalu mengejutkan dari seseorang yang mengganti namanya dengan nama baru yang didasarkan kepada kord pertama lagu the Beatles, “All My Loving”. Remy dengan ringan juga bilang kalau the Beatles adalah salah satu dari 4B, Brahms, Beethoven, Bach.
Hampir empat dekade setelah band—yang pernah mengklaim dirinya lebih besar dari Yesus—ini membubarkan diri, majalah Rolling Stone Amerika Serikat masih perlu menulis sebuah cerita sampul tentang penyebab bubarnya kelompok ini, meski tanpa ada hal baru yang cukup penting untuk diceritakan. Perlakuan istimewa semacam ini juga membuat agnostisisme saya kepada the Beatles menjadi semakin mendapat alasan; kalau Rolling Stone saja masih mau menulis kelompok ini setelah 40 tahun berlalu, kelompok tersebut tentu saja telah diberhalakan sampai pada taraf yang berbahaya. Dan menulis tentang the Beatles pada akhirnya adalah sebuah tindakan sia-sia.

Namun bertepatan dengan dirilis ulangnya semua album the Beatles dalam bentuk CD yang telah mengalami perbaikan kualitas suara (remastered), ada baiknya saya berbagi cerita tentang album the Beatles Revolver, album yang paling kurang mendapat perhatian (underrated) meskipun ini menurut saya adalah album terbaik dan paling sempurna dari the Beatles.

Hubungan saya dengan Revolver seperti kembali ke titik awal beberapa hari yang lalu. Saya mendengar album ini pertama kali, mungkin 25 tahun yang lalu, dari sebuah kaset yang saya amankan dari mobil paman saya, seorang aktivis mahasiswa pada zamannya. Nah, beberapa hari yang lalu saya membeli album ini dalam bentuk kaset dari sebuah toko musik di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Saya sebenarnya sedang mencari-cari album perdana Nirvana, Bleach—yang barusan di rilis ulang dalam bentuk piringan hitam (yang berwarna putih) untuk pasar Amerika Utara. Di Indonesia album Bleach nampaknya sudah tidak dicetak lagi, namun secara tidak terduga saya menemukannya dalam bentuk kaset di sini. (Untuk keperluan menulis artikel tentang kemandegan kritik seni di Indonesia, saya belakangan mengunjungi hampir semua toko musik besar di Jakarta, namun tidak bisa menemukan Bleach dalam bentuk CD atau kaset apalagi piringan hitam).

Agak menarik juga kalau saya menemukan Revolver ketika saya sedang mencari Bleach, karena kedua band ini walaupun berbeda secara sound dengan sangat jauh, kedua jenius kelompok ini John Lennon dan Kurt Cobain terkenal memiliki kemampuan menciptakan nada-nada bernas beraroma (atau berirama) pop. Penggemar Nirvana tentu tahu legenda bahwa Cobain—di sela-sela sesi rekaman untuk album Nevermind—mendendangkan lagu “Julia” sambil memainkan gitar akustik.

Kembali ke soal Revolver, 25 tahun yang lalu album ini telah meninggalkan kesan yang kuat, dan ini mungkin adalah salah satu alasan kenapa saya jatuh cinta ke musik rock ‘n’ roll—meskipun masih ada misteri besar yang masih belum bisa saya jawab adalah kenapa saya pada akhirnya tidak memberhalakan the Beatles. Waktu itu saya masih anak kecil, namun saya segera bisa tahu bahwa Eleanor Rigby adalah musik yang tidak biasa. Sebuah lagu di dalam album rock yang seluruh instrumentasi dikerjakan dengan alat musik gesek a la chamber music?
Beberapa waktu yang lalu saya mengetahui setelah membaca buku Alex Ross, The Rest Is Noise: Listening to the 20th Century bahwa lagu ini adalah hasil nyantrik Paul McCartney mendengarkan karya komponis Jerman Karlheinz Stockhausen. Secara teknis, "Eleanor Rigby" juga sudah sangat maju, alat musik gesek yang menyayat di sebelah kanan dan vokal McCartney di sebelah kiri dan hanya pada beberapa titik, vokal McCartney menyatu di tengah bersama alat musik gesek. Ini adalah penggunaan efek stereo yang paling efektif. Bagi saya ini adalah lagu terbaik McCartney, jauh lebih baik dari "Let It Be".

Revolver di hasilkan di tengah puncak kreativitas studio the Beatles, diapit oleh Rubber Soul yang masih agak malu-malu bereksplorasi dan Sgt. Pepper’s Lonely Heart Club Band, yang eksesif itu. Di album ini kita masih bisa mendapatkan the Beatles sebagai band rock ‘n’ roll murni yang baru saja keluar dari garasi, seperti di lagu “Taxman”, sebuah lagu yang sangat politis yang secara mengejutkan di tulis oleh si pendiam George Harrison. Jika tidak sedang memberi ketukan ritme gitar yang kelak menjadi inspirasi bagi band power-pop seperti the Knack, Big Star, dan the Posies, gitar solo Harrison menyalak dengan nada nada tinggi yang garang.
The Beatles di album ini sudah sedemikian maju sehingga mampu memutar terbalik gitar solo Harrison di “I’m only Sleeping” menjadi sebuah suara gitar dari dunia mistik. Berbicara tentang mistisisme, Revolver juga adalah album the Beatles pertama yang menjadikan sitar dan tabla (di lagu “Love You To”) sebagai instrumen utama (yang mungkin juga pertama untuk rock ‘n’ roll.

Ketika McCartney-Lennon bergabung menyatukan kekuatan yang kita dapat adalah lagu yang menjadi landasan bagaimana pop kemudian di definisikan. Lagu tersebut adalah “Here, There and Everywhere”. Di sisi yang lain ada lagu yang merupakan hasil akhir dari kegemaran Beatles untuk melakukan uji coba dengan penemuan penemuan baru di studio namun penemuan-penemuan di bidang kedokteran. Bidang kedokteran yang saya maksud adalah penemuan LSD yang kemudian menjadi sangat berpengaruh untuk melebarkan otak John Lennon sehingga dia bisa mengalami pengalaman psychedelic.
Pengalaman luar dunia ini secara sangat menakjubkan bisa dituangkan—dengan pemakaian tipuan-tipuan studio yang canggih—oleh Lennon dan McCartney dalam lagu “Tommorrow Never Knows”, tiga menit bunyi-bunyi tidak berbentuk, loop tape yang diputar terbalik, teriakan-teriakan anjing laut, ketukan ketukan ganjil Ringo Star dan Lennon yang seperti menyanyi dari dalam laut adalah psychedelia dalam bentuknya yang paling sempurna. Musik pop tidak pernah sama lagi setelah itu.

The Flowers: Kisah Sang Bunga

The Flowers: Kisah Sang Bunga

Medio pertengahan dekade 90, di sebuah acara musik Universitas Indonesia. Bongky Marcel Ismail (Bongky) bersiap tampil dalam keadaan tak sepenuhnya sadar akibat mengkonsumsi alcid (semacam zat adiktif) di luar batas kewajaran.
Jenis psikotropika tersebut biasa digunakan dengan cara ditempel pada kening yang kemudian akan bercampur dengan kelenjar keringat. Si pemakai akan memperoleh reaksi hanya dengan mengicip tiap tetes keringat yang mengucur dari atas menggunakan lidah. Itu metode umum, versi Bongky: menempelkan alcid langsung ke langit-langit mulutnya.
Sampai tiba waktu, ia naik ke atas panggung dengan sempoyongan, badannya seakan tak bertulang, permainannya meracau. Klimaks pun terjadi saat interlude lagu penutup. Ia tak lagi memegang alat musik, bas yang seharusnya tetap dimainkan seketika ditinggalkan. Ia lebih tertarik untuk menjahili sang gitaris yang juga sudah “tinggi” dengan menekan efek gitar secara terus menerus menggunakan tangannya. Setali tiga uang, personil yang lain secara tak sadar bereksperimen dengan alat musik masing-masing hingga lagu tersebut tak kunjung usai. Sang vokalis lari ke sisi panggung, berlulut dengan kedua tangan menutup telinga. Penonton bubar.
Sekelumit perjalanan Bongky menjalani hidupnya sebagai musisi ranah hitam, periode dimana alkohol serta obat-obatan telah menjadi energi penggerak dan kebutuhan hakiki dalam bermusik. Bukan dalam band legendaris yang telah mendepaknya, Slank. Bukan pula dengan BIP, band yang ia gawangi sampai saat ini. Tak kalah liar dari keduanya, bahkan lebih memabukkan. The Flowers namanya.
***
Adalah Boris Simanjuntak, pria keturunan Batak-Jawa yang merupakan pendiri sekaligus gitaris The Flowers. Terkenal begitu karismatik (terutama dimata kaum hawa) hingga lantang dipanggil dengan sebutan Boris “Keras dan Gelinding”, yang merupakan interpretasi dari alat kelamin laki-laki. Ia bersahabat baik dengan Dimas Djayadiningrat (Dimas Jay) yang saat ini dikenal sebagai sutradara papan atas tanah air. Mengetahui selera musik kawannya, Jay lalu mengenalkan pacar adiknya yang juga merupakan pemuja setia Rolling Stones. “Nanti gue kenalin bokin ade gue, anaknya gondrong, Stone juga.” ucap Jay saat itu. Anak gondrong yang dimaksud tak lain adalah vokalis bersuara maksimum dengan aksen sengau liar khas rock n’ roll, Zaid Barmansyah. Publik lebih mengenalnya dengan nama Njet.
Sebelum dibanjiri para Slankers, Potlot merupakan tempat nongkrong ideal para musisi, termasuk Boris yang ketika itu menjadi gitaris untuk Oppie Andaresta, sementara Njet menjadi backing vocal Slank. Dari sekedar jamming hingga event dadakan rutin digelar dikediaman Bunda Iffet tersebut. Salah satu yang mencuat adalah kolaborasi para musisi bertajuk “Out of the Rising Star” yang melibatkan Boris, Njet, Anda (ex Bunga / Anda n the Joints), Cole (Almarhum) dan Chiling (Bunglon). Mengendus potensi nilai jual, Parlin Burman Siburian (Pay) yang saat itu masih berseragam Slank menawarkan mereka berlima untuk membuatkan projek yang lebih serius. Label Aquarius menjadi sasaran pertama.
Kawin silang terjadi ketika Pay terlalu sibuk dengan berbagai aktivitas hingga membuat projek garapannya mulai terbengkalai, sementara di sisi lain Bongky baru saja kehilangan pekerjaan setelah menerima selembar surat dari Bim-bim berisi perintah pemecatan dirinya dari Slank. Bongky akhirnya melanjutkan projek sekaligus mengisi posisi bas yang sebelumnya dipegang oleh Cole. Cole sendiri menggantikan Anda di posisi gitar. Dengan formasi baru, mereka sepakat memakai nama Flowers - terispirasi kegilaan mereka dengan flower generation - setelah nama “Bunga” sudah lebih dahulu dipakai.
Angin segar berhembus, arah perjuangan mereka menemui titik cerah. Tahun 1996, album perdana bertajuk 17 Tahun Keatas berhasil mereka rilis lewat label Aquarius. Album bermaterikan 11 lagu macam “Boncos”, “Nggak Ada Matinya”, dan “Kompromi” dibuat berdasarkan pengalaman dan realita yang mewakili sebagian besar kehidupan sosial anak muda masa itu. Tak heran jika dalam waktu singkat nama mereka meroket menjajarkan diri dan perlahan menggantikan peran Slank yang pada saat bersamaan hancur lebur ditinggal sebagian personilnya. Bahkan lagu “(Tolong) Bu Dokter” demikian fenomenal, seakan menjadi obat penawar paling mujarab bagi mereka yang sedang mengalami sakit hati – keadaan yang entah mengapa ngetrend saat itu. Puncaknya ketika Flowers menjadi band pembuka asal Amerika, Firehouse di 18 titik seluruh Indonesia.
Kejujuran yang mereka tuangkan dalam lirik tak hanya diamini oleh para penggemarnya. Karena setiap bait lagu yang mereka ciptakan, terang-terangan mereka realisasikan dalam kehidupan nyata, bahkan lebih. Salah satunya tercermin di “Tong Sampah”, sebuah lagu tentang perilaku seseorang yang tanpa filterisasi memasukan zat apapun ke dalam tubuhnya. “Aku telan apa saja/Nggak pake pantang/Nggak ada urusan.” kata-kata itu dinyanyikan Njet pada bait pertama.
Gemerlap popularitas serta kemudahan memperoleh fasilitas perlahan pula menjerumus ke fase tersuram dalam karir Flowers, mereka meluncur jauh dalam jeratan alkohol dan obat-obatan. Boris sampai pada titik dimana Flowers bukan sesuatu yang sehat - dalam artian mabuk dan tak sadarkan diri lebih penting dari pada bermusik. Tahun 1998 ia kemudian pergi meneruskan kuliah musik di Amerika. Bongky keluar dan membuat projek lain bersama Ahmad Dhani dan Pay di Ahmad band. Setahun setelah Boris pergi, Cole meninggal dunia tanpa diketahui sebab yang pasti.
***
Pergantian milenium seolah membawa hawa perubahan selepas episode hitam Flowers. Boris yang telah selesai menuntaskan studinya pulang ke Indonesia dengan rencana membangun kembali serpihan kejayaan masa lalu. Anda bersedia mengisi posisi gitar kembali sepeninggal Cole. Pada bas diisi oleh Ganesh (session player Iwa K), sedangkan posisi drum serta vokal tetap ditunggangi Chiling dan Njet.
Selama 4 tahun (2000-2004) sepuluh materi lagu berisi instrumen mentah telah dipersiapkan dalam bentuk pita rekam. Pay yang saat itu berbendera BIP (Bongky Indra Pay) untuk kedua kalinya siap membantu Flowers meretaskan sekuel 17 Tahun Keatas. Namun ada satu syarat yang ia ajukan: Seluruh personil harus bersih dari narkoba. Flowers menerima syarat tersebut.
Hingga suatu kali, Njet tertangkap basah kedapatan masih mengkonsumsi narkoba. Pay geram, dan berujung pada dibatalkannya proses album kedua Flowers. Materi lagu pun tak pernah selesai, sampai saat ini hanya merongsok di pihak label.
***     
1 Januari 2011, saat waktu menunjukan pukul 12 siang. Sesuai dugaan, orang yang saya hubungi baru terbangun setelah mendengar suara bising yang meluncur dari telepon pribadinya. Dengan kondisi belum sepenuhnya sadar, ia berusaha mengumpulkan konsentrasi agar dapat mendengarkan suara saya, sesekali dengan nada tertatih ia sekena-nya menjawab “he-eh”, “ iya, bungkus!”. Tujuan saya saat itu ialah membuat janji bertemu dengannya, tapi saya tak yakin maksud pembicaraan tadi dapat ia mengerti.
Esok hari, ia datang. Dengan memakai skinny jeans warna coklat berpadu dengan atasan kaos v-neck bermotif etnik dengan sebuah kalung bermatakan ukiran tulang dileher serta rambut kribo panjang yang diikat ke belakang. Ia memesan kopi hitam seolah bersiap menumpahkan rekam jejaknya menjadi bagian dari perjalanan Flowers. Orang yang saya maksud adalah sang penggebuk drum Flowers saat ini, Dado Darmawan a.k.a Dado Kemauan dan Kemaluan yang Keras. Tak hanya namanya yang nyeleneh, kelakuannya pun tak kalah berantakan. Bicaranya lugas, apa adanya, bahkan pemilihan kosakata yang disampaikan teramat liar, “Syarat masuk Flowers itu penting ngehe, beda dari yang lain.” Suatu bentuk nyata seorang seniman rock n’ roll masa kini.
Dado merupakan salah satu tonggak kebangkitan Flowers jilid selanjutnya. Sebelumnya ia tergabung dengan band beraliran punk, kemudian ia digaet Hendry Satriawan (ex Junior) - yang juga berperan dalam pengerjaan musik Flowers - untuk menjadi roadman Bonita. Hampir bersamaan, Boris dan Njet kembali mendapat pencerahan untuk membuat sang bunga kuncup mekar lagi. Sperma-nya (istilah Dado) terjadi pada sebuah event musik di tahun 2005 “On Off with Njet Boris Flower” sebuah kolaborasi Njet Boris yang seolah menjadi “deja vu" awal mula terbentuknya Flowers.
Boris lantas meminta Hendry merekomendasikan seseorang pada posisi drum. Pilihan jatuh pada Dado, yang dinilai mempunyai kekuatan hentakan cukup kuat – sesuai dengan kemauan Boris. Pembaptisan dirinya (istilah Dado lagi), terjadi pada acara sekolah Pangudi Luhur, PL Fair Jakarta tahun 2006. Kemudian berlanjut di beberapa gigs seperti Slank Fest dan Djaksphere di tahun yang sama. Rentang waktu 2006-2009 diisi dengan pengumpulan materi sekaligus periode bongkar pasang personil. Posisi additional bass yang dipegang Fanny harus ditinggalkan setelah ia lebih memilih untuk masuk dapur rekaman dengan band reggae, Cozy Republic.
Pernah menjadi session player bersama (untuk Nugie, Katon Bagaskara), Boris memanggil sang partner Leonardo Maitimu (Leo Funky Bass), pembetot bas bernuansa funk namun lekat dengan atmosfer rock 80an untuk menggantikan posisi Fanny. Tak harus lama beradaptasi, Leo segera melebur kedalam Flowers. “Leo itu orangnya kocak, jadi kalau kita nongkrong bareng, suasana jadi lebih hidup. Kita cepet cocok.” lontar Dado memuji rekannya. Memang jika dilihat aksi panggung Leo yang begitu atraktif dan penuh chemistry dengan personil lain, orang awam mungkin mengira ia merupakan formasi awal Flowers.
Nama terakhir yang mengisi line up adalah Eugen Bounty (saxophone), yang berangkat dari wilayah musik yang jauh berbeda dengan Flowers. Ia musisi orkestra. Boris bersikeras ingin tetap mengadirkan nuansa tiup agar secara keseluruhan musik Flowers terdengar lebih megah. Keinginan tersebut sudah ia cita-citakan sejak lama. Namun jalan tak selalu mulus, kendala yang menghadang adalah soal harga. Musisi orkestra seringkali menetapkan standar tinggi mengenai harga. Negosiasi pun dilancarkan. Panggung pertama Eugen bersama Flowers terjadi pada tahun 2008, di sebuah konser dikawasan Sarinah, Jakarta. Eugen akhirnya bersedia dibayar 750 ribu untuk mengisi lima lagu.
Pada saat latihan pertama, Eugen datang ke studio yang berada di lantai 3, ia tidak membawa air minum. Seusai lagu kedua ia mulai merasakan haus, matanya langsung tertuju pada sebuah botol plastik minuman kemasan. Dengan logat Jawa yang kental ia bertanya, “Ini opo toh mas?”. Belum sempat mendapat jawaban dari yang lain, ia lantas meminumnya hingga sisa setengah botol. Latihan kembali dilanjutkan. “Eugen kan jatahnya ngisi lima lagu, tapi pas itu dia udah naik banget, nggak berasa katanya. Ngisi, ngisi. Akhirnya dia main semua, lima belas lagu!!” Dado bercerita sambil tertawa. Belakangan diketahui bahwa botol plastik itu berisi minuman beralkohol. Eugen pun dijuluki Eugen Kuliner – makan dan minum apa saja. Sejak saat itu pula ia mengaku jatuh cinta dengan Flowers, passion musik yang berbeda dari sebelumnya.
Personil telah lengkap, materi album selesai digarap. Demajors pun setuju menjadi label distribusi Flowers. Selanjutnya masuk proses mixing mastering. Mereka kemudian memilih Indra Qadarsih (BIP). Alasan pertama, karena kualitas Indra, baik sebagai musisi maupun sebagai sound engineer tak perlu diragukan lagi. Alasan kedua (dan yang paling melatarbelakangi), harga teman.
Prosesnya dilakukan di rumah sekaligus studio Indra, masih disekitaran Potlot. Lokasinya agak menjorok ke area perkampungan dengan akses jalan masuk hanya cukup untuk sepeda motor. Dari tempat parkir kendaraan harus disambung dengan berjalan kaki sejauh 500 meter untuk sampai ke rumah tersebut. Didalamnya terdapat berbagai peralatan rekaman canggih, dengan aneka tombol kendali serta jejeran monitor disetiap sisinya. Sekilas ruang operator studio tersebut menyerupai kokpit pesawat. Boris dan Dado mewakili personil lain secara intensif berkunjung ke tempat Indra.
Mereka membawa berbagai album musisi luar untuk dijadikan referensi sound yang akan dipakai, mulai dari Led Zeppelin, The Black Crowes, Lenny Kravitz, hingga Kings of Leon. Dengan referensi tersebut diharapkan tekstur suara rekaman yang dihasilkan tetap kering serupa dengan versi live. Namun ditangan Indra hasil akhir lagu menjadi lebih kalem dan lembut. Menurut Dado, referensi bermusik Indra terhenti di era 90 awal dan lebih dominan kearah musik 80an. “Masa ada lagu yang dibuat mirip Genesis, malah ada yang dia buat kayak Counting Crows. Awalnya nggak sreg, tapi lama-kelamaan kita kedoktrin sama dia, halal deh!!” terang Dado. “Lagian kita nggak enak, masa harga temen banyak maunya.”
***
11 April 2010, Score Cilandak Town Square, Jakarta. Album kedua The Flowers – peremajaan dari Flowers – akhirnya di launching. Para pengagum setia mereka, yang rata-rata memasuki kepala tiga tumpah ruah tak sabar menunggu hasil racikan sang pujaan yang telah lama hilang. Turut hadir pula rekan-rekan musisi serta keluarga dekat The Flowers. Acara berlangsung sukses, apresiasi positif datang dari berbagai pihak. Era rock n’ roll sesungguhnya seperti bangkit kembali dari tidur panjang.
Album ini pantas bersanding dengan mahakarya pertama, 17 Tahun Keatas. Di berbagai sisi bahkan terasa mengungguli. Satu yang perlu digarisbawahi adalah konsistensi The Flowers memotret isu sosial yang telah berkembang, efeknya generasi sekarang tetap dapat menikmati sekaligus memaknai setiap lagu mereka. Tak heran jika beberapa media tanah air kemudian menempatkan album ini sebagai salah satu album terbaik tahun 2010. Sebersit harapan akan kemajuan industri musik Indonesia pun kini ditujukan kepada mereka. Sebuah debut comeback yang sangat manis.
Keberhasilan The Flowers kembali ke belantika musik tak melulu soal materi ataupun semata hitungan bisnis. Lebih dari itu, esensi tersirat yang ingin mereka sampaikan adalah mengenai perjuangan dan kesetiaan terhadap pilihan yang selama ini di ambil. Sebuah alasan untuk tetap bertahan, untuk sesuatu yang indah didengar dan nyanyikan. Terlepas dari periode kelam yang pernah mereka alami, saat ini The Flowers tetap hidup untuk bermusik. Mereka kabarkan dunia lewat album kedua, Still Alive and Well.

sumber: http://www.jakartabeat.net/
*image dari: http://pirachy.multiply.com

Jumat, 20 Mei 2011

The BEST Indonesian Rock n' roll band EVER!!!

Ternyata jauh sebelum Elvis Presley, Beatles, Rolling Stones, Jimi Hendrix, dll mendominasi musik rock taun '60 an, sebuah group ROCK N ROLL asal Indonesia sudah lebih dulu populer & jadi salah satu pionir Rock n' roll DUNIA.

Konon Jimi Henfix, Beatles, Rolling Stones, bahkan Elvis Presley pun terinspirasi untuk mengikuti gaya mereka.

Ga perlu disangkal... ga bisa dipungkiri... This is the best Indonesian rock n' roll band ever.

The Tielman Brothers
Mereka ini asli orang2 Indonesia, cuma pada akhir tahun '50 an, saat Soekarno gencar meneriakan anti barat, mereka terpaksa "hijrah" ke Belanda dan menetap di sana. Akhirnya orang lebih mengenal mereka sebagai group asal Belanda.



The Tielman Family  in Surabaya, Indonesia 1947
l/r: Jane, Reggy, Ponthon, Andy, Loulou, Mother Flora Lorine Hess, Father Herman Tielman

(Father) Herman Dirk Tielman (Menado 1904 - † The Hague 1979)
(Mother) Flora Laurentine Hess (Madiun 1901 - † Purworedjo 1991) (German ancestors)
- she was married before with Uchtmann (3 children Ralph, Jack and a girl were born).
Reggy (Reginald)- born the 20th May 1933 in Surabaya, Indonesia (he got the surname Uchtmann)
Ponthon - born the 4th August 1934; deceased the 29th April 2000 in Jemper, Indonesia
Andy - born the 30th May 1936 in Makassar, Celebes, Indonesia
Loulou (Herman Lawrence) - born the 30th October 1938 in Surabaya, Indonesia, deceased the 4th August 1994 in Cairus, Australia
Jane (Janette Loraine )- born the 17th August 940; deceased the 25th June 1993


THE TIMOR RHYTM BROTHERS( Indonesia 1945-1957)
Andy Tielman (guitar, vocals)
Reggy Tielman (banjo,guitar,vocals)
Ponthon Tielman (double bass, guitar, vocals), left in 1956 for Bussum, the Netherlands
Loulou( Herman Lawrence) Tielman (drums, vocals)
Jane (Janette Loraine) Tielman (Vocals)
(Father) Herman Tielman (manager, guitar)
(Mother) Flora Lorine Hess (presentation)

The Timor Rhythm Brothers in Surabaya 1947
l/r: Ponthon, Reggy, Loulou, Jane, Andy Tielman
The story of THE TIELMAN BROTHERS begin in Surabaya, where the 4 little brothers Tielman and little sister Jane started performing together in 1945 folk songs and traditional dances. Father Herman a captain and later quartermaster in the KNIL (Royal Dutch Indonesian Army) and he had stayed in a Japanese concentration camp. He owned a house in Surabaya and started to play music together with his friends. Herman Tielman was a gifted all round musician and he was the one that supplied Reggy, Ponthon, Andy, Loulou and Jane with their rich musical luggage. From the started Ponthon wanted to play the big double bass. Reggy wanted to play banjo and little Loulou was fond of the drums. Andy learned to play lead guitar. During their first performance during a house party they surprised their fathers friends with difficult numbers like Tiger Rag and 12th Street Rag.
Gigs followed at several private parties in Soerbaya. It went fast and within half a year they went on tour as THE TIMOR RHYTHN BROTHERS -Timor is the island, where the Tielman family inherited from - along the camps of the Dutch soldiers. There after they received offers from the NIWIM (National  Effort Welfare Indonesia) and together with famous Dutch artists like De Wama’s, the Ramblers and the Skymasters they toured along the major cities of Indonesia. Their shows consisted of music and dances from all over the Indonesian islands including corresponding costumes and ritual attributes like war spears and swords. During these shows father Herman Tielman joined in on guitar mother Flora took care for the general presentation.

On the 29th December 1949 the official  independence proclamation of Indonesia took place. The Tielman family now performed for the Indonesians. They even performed in the palace of president Soekarno in Djakarta. When they grew older they started to cover the top hits in perfect close harmony. In 1951 they were introduced to Guitar Boogie of Arthur Smith. Andy later told in an interview: ‘this was the first song which my brothers and I converted into rock ‘n roll by adding drums to it’. Later they started playing number of Les Paul, Elvis Presley, Little Richard, Bill Haley, Fats Domino, Chuck Berry and Gene Vincent. Andy also played together with Dolf de Vries in the band THE STARLIGHTS in Djakarta. Also on Sumatra he played without his brothers in the Hawaiian band of Freddy Wehner.
 
THE TIMOR RHYTHM BROTHERS –THE FOUR TIELMAN BROTHER-THE 4 T’s (Breda 1957-1959)
Andy Tielman (lead guitar, vocals)
Reggy Tielman (2nd lead guitar, vocals)
Ponthon Tielman (double bass, vocals)
Loulou Tielman (drums, vocals).

The 4 T's showing their brandnew Miller and Wilson guitars. (Breda 1957)
 
At a certain moment they were offered an extensive tour throughout Indonesia, but only on condition that they should change their Dutch nationality into Indonesian. In the opinion of Herman Tielman his children would have a better future in the Netherlands and in 1957 the family repatriated to Holland by boat. Ponthon was already repatriated  one year earlier and lived with his wife in Bussum.
After arrival in Holland they were settled in Breda in boarding house Smulders at the Baronielaan. They possessed only of a small suitcase with thin tropical cloths and they were confrontated with the cold Dutch winter. Luckily the DMZ (Military Affairs Service) supplied them with warm clothings. Edu Schalk - later singer with the Poetiray Brothers from Oosterhout- was their first Indonesian friend in Breda. The brothers went to the music shop Spronk in Breda and after they had convinced the owner of their great talents with their version of Bye Bye Love by The Everly Brothers, they were allowed to buy the most expensive guitars from the shop at instalment purchase. That became the legendary big white Miller guitars and a sunburst Wilson guitar. These were products of the Egmond company from  Eindhoven (type ES 57). Later they also bought Egmond combo amplifiers to replace the old radio’s they were using. Their first appearances took place in Hotel De Schuur at the Catharinalaan in Breda. In the beginning they performed as the TIMOR RHYTM BROTHERS but soon they called themselves THE FOUR TIELMAN BROTHERS or THE 4 T’s. They soon went famous in Breda and started gigging other places in the province Brabant like Kamp Lunetten in Vught and dancing De Cosmopoliet in ‘s Hertogenbosch.

The Four Tielman Brothers on stage (Haagsche Dierentuin, The Hague ca.1957/1958)
The big aluminium balls of the Atomium in Brussels, Belgium still remember us of the world exebition Expo 58, which was held from the 17th April until the 19th October. At that time Hawaiian music was very popular in Europe and as a part of the Attraction Park a Hawaiian Village was created. With a decoration of palm trees, a blue sky and exotic plants and flowers Rudi Wairata (steel guitarist) and Mike Anoi (Guus 'broer' Arends) and their Hawaiian band played as main act. Several Dutch bands appeared and also THE FOUR TIELMAN BROTHERS were invited by Mr. Morisson from the organisation of the Hawaiian Village. They were allowed to fill a  break of 20 minutes. They gave a spectacular rock ‘n roll show as never in Europe performed before. Andy played guitar with his foot, the guitars were played reverse in the neck, his guitar was played with the drumsticks of Loulou, the double bass was handled in a sheer acrobatic way and guitars were tossed between the  brothers. The 20 minutes became almost 6 months.


THE TIELMAN BROTHERS (1963-1964)
Andy Tielman( lead guitar,vocals)
Alphonse Faverey (lead guitar) ex Strangers; to The Four Beat Breakers >The Time Breakers
Reggy Tielman (2nd lead guitar, 6 string bass, vocals)
Franky Luyten (rhythm guitar, vocals) to the The Four Beat Breakers>The Time Breakers
Ponthon Tielman (bass guitar, 6 string bass, vocals) to Tielman Royal ; afterwards back to Indonesia
Loulou Tielman (drums, vocals)
Jane Tielman (vocals)
The Tielman Brothers with sister Jane and Alphonse Faverey (left)(1963)

In 1963 Andy and Reggy Tielman were involved with a severe car accident and came under a freight truck. Reggy recovered after 2 weeks, but Andy was for 4 days in coma and his arm was broken at 8 spots. His arm was put in plaster and his recovery lasted many months. As replacement Alfons Faverey joined THE TIELMAN BROTHERS. His band THE STRANGERS had split and he would remain with the band after the return of Andy. The guitar playing  was less good and Andy concentrated even more on his vocals. Nevertheless Andy created a real innovation in the guitar world. He put 4 extra banjo strings on his Jazzmaster and with this 10 string guitar he could achieve very special effects and a  big sound. The rumour goes that an employee of Fender  came to the Sputnik to watch Andy’s unique guitar. Framus and Vox  made prototypes of a 9 string guitar, probable influenced by Andy and almost all Indo- Rock bands in Germany followed Andy’s conversion of their lead guitars, Fender Jazzmasters of course. Together with Alfons they did a tour in Israel. Unfortunately no records were made during they stay of Alfons in the band.  During 1964 Franky Luyten and Alfons Faverey were drafted for the Dutch military service. Because of  disagreements Ponthon left THE TIELMAN BROTHERS  played for some time with hs own band TIELMAN ROYAL and after that he went back to Indonesia where he stayed until his decease in April 2000.
THE TIELMAN BROTHERS( 1964-1969)
Andy Tielman( lead guitar,vocals)
Reggy Tielman( 2nd lead guitar, 6 string bass, vocals)
Hans Bax( rhythm guitar, vocals)
Rob Latuperisa( bass guitar, 6 string bass)
Loulou Tielman †( drums, vocals)
Jane Tielman ( vocals)
  The Tielman Brothers with Hans Bax(left) and Rob Latuperisa (right)
 
Together with Hans Bax and Rob Latuperisa coming from the broken up  legendary Indo-Rock group THE JAVALINS started touring again in Germany again under the name THE TIELMAN BROTHERS, despite the fact that Andy himself had problems with this name. He would have preferred to continue as THE TIELMAN BAND. In this formation they recorded end of 1964 a live LP as well as a number of singes of which Hello Caterina was one of the better own compositions. This  LP contained mainly covers because the repertoire  had to be adapted more and more to due the pending trend of that period.
In 1965 they were invited to perform in the best known dancing of the Netherlands the posh Palais de Danse in Scheveningen( the seaside village of The Hague). Although they hadn’t played in Holland for years their fans came from all over the country and had to cue for the entrance well in advance, watching the sharp dressed band members arriving in their big limousines. They appeared with big success during July and August and their opening acts were the well known ZZ EN DE MASKERS and ANDY STARR & THE STRIPES. Jos Van Vliet, earlier president for THE CRAZY ROCKERS fan club and now Press Manager with Negram/Delta records invited them to the studio and the result was the beautiful album ‘East & West’, on which Andy excelled in 5 wonderful ballads like Unchained Melody, Maria and Danny Boy. Jane sang lead in Bring It On Home To Me. Reggy was the lead singer in a number of traditional Indonesian songs like Ole Sio and Kekasih Ku. The number Maria( West Side Story) was released as a single and reached with number 20 in the Dutch Top Forty its highest position in 1965. The self penned impressive instrumental Marabunta was also released in the U.S.A. on the Scepter label.

Andy was as far as we know the only famous lead guitarist who used the meanwhile very rare Vox Guitar Organ on stage in 1966. This instrument could reproduce organ- and guitar sounds. With its multiple controls and knobs it was not easy to play. More over this organ guitar could only be played with an electronic plectrum which was connected with the PC boards of the guitar. This organ guitar soon disappeared from the market, but once again Andy Tielman proofed to be a true innovator in guitar sound.
Until 1967 they recorded  for the German Ariola label, but the typical Tielman style was most of the times far gone. In 1967 they had totally unexpected their biggest hit in their career. Little Bird was recorded in 1967 in the Netherlands and reached the number 7 in the Dutch Top Fourty. The record was released in the U.S.A. on the Ranwood label.
There after followed a period of constantly changing formations and they appeared as ANDY TIELMAN & THE TIELMAN BROTHERS. The typical Tielman sound even further disappeared and only in 1979 Andy would show something of his old glory. Especially the instrumental Sarinandé made quite an impact  and it was very remarkable tot see at last a LP with 4 instrumental numbers, after all these were the real roots of the Tielman Brothers.
  Andy Tielman & The Tielman Brothers in de 70's
Andy with Vox Mando-Guitar (12-string elec. mandolin). Behind him a Vox AC 100 De Luxe and Fender XII

Kamis, 19 Mei 2011

Akademi Mimpi : Abdee Negara "Slank" dan Band Coklat Cari Bintang


Akademi Mimpi : Abdee Negara "Slank" dan Band Coklat Cari Bintang

-Akademi Mimpi ini merupakan serangkaian dari program Impian 1 Milyar yang sudah memasuki usia ke-2. Untuk Akademi Mimpi tahun ini fokus pada tema: Abdee "Slank" Negara dan Cokelat Band Cari Bintang dan akan melakukan audisi di beberapa kota. Surabaya menjadi kota pertama Audisi Akademi Mimpi dan telah menjaring 20 peserta yang lolos masuk ke babak selanjutnya pada tanggal 7-8 Mei lalu di Supermal Pakuwon.

Minggu ini Abdee dan Cokelat akan melakukan audisi langsung di Solo Grand Mall pada tanggal 14 - 15 Mei untuk mendapatkan calon bintang. Setelah Solo, audisi akan dilanjutkan di Bekasi pada tanggal 21-22 tempatnya di Grand Mall bekasi. Kemudian berlanjut ke Central Plaza, bandar Lampung pada tanggal 28-29 Mei dan kemudian di Jakarta pada tanggal 4-5 Juni.

Setelah serangkaian audisi yang juga dibarengin roadshow program belanja berhadiah 1 M, acara puncaknya akan di gelar pada tanggal 23-24 July dalam sebuah Karnaval 1 M di Jakarta. Detail informasi bisa dilihat di www.impian1milyar.com

Selasa, 17 Mei 2011

`Stairway To Heaven` Ditahbiskan Sebagai Lagu Classic Rock Terbaik Sepanjang Masa


"Stairway To Heaven", lagu dari Led Zeppelin ini ditahbiskan sebagai lagu balada rock terbaik sepanjang masa di sebuah polling yang diadakan di RollingStone.com.

Lagu yang populer pada tahun 1971 tersebut mengalahkan lagu-lagu dari The Beatles dan Rolling Stones dan menjadi peringkat pertama.

Saat memberikan penghargaan tersebut, sang editor menulis :

"Apabila semua genre dari Classic Rock bisa diringkas menjadi satu lagu, maka lagu itu adalah 'Stairway To Heaven'. Lagu itu telah diputar jutaan kali sejak keluar di radio tahun 1971, dan sampai saat ini masih belum menampakkan tanda-tanda akan lenyap."

The Top Five dalam polling tersebut sebagai berikut :

01. "Stairway To Heaven" by Led Zeppelin

02. "Something" by The Beatles

03. "Wild Horses" by Rolling Stones

04. "November Rain" by Guns N' Roses

05. "Let It Be" by The Beatles.

Cara Mempercepat Browser Mozilla Firefox dan Koneksi Internet

Terbunuh Sepi - Sebelumnya Saya jelasin dulu tips ini bukan untuk mempercepat koneksi internet tapi memperlancar koneksi cepat atau lambatnya tergantung dari ISP yang kaskuser pakai mau pakai telkomflash , Speedy, Smart evdo , Indosat IM2 , Flexi , starone, ataupun Mobi8 saya tekankan sekali lagi semua tergantung pada koneksi masing² Provider yang kaskuser pakai. Tentunya pada tutorial kali ini yang di butuhkan adalah browser Mozilla Firefox Pada tutorial ini Penulis Menggunakan Mozilla 3.5.3 (Nanti klo ada perubahan versi dan trik saya update di halaman artikel ini)
Untuk Langkah awal Ketikkan about:config setelah itu cari melalui kolom filter kata kata di bawah ini:




A
network.http.pipelining
network.http.pipelining.maxrequests
network.http.proxy.pipelining
Lalu Rubah Nilai DI atas Menjadi
Set “network.http.pipelining” ke “true”
Set “network.http.proxy.pipelining” ke “true”
Set “network.http.pipelining.maxrequests” isi 32 atau kalian bisa isi terserah nanti saya jelaskan tapi normal nya 32.
Fungsi Diatas bisa di artikan Browser mozilla anda jika default akan mengunduh halaman Web Dengan 1 jari jika di rubah nilai Value nya menjadi 32 maka akan mengunduh halaman web dengan 32 jari. klo kebanyakan jari ntar ribet maka gunakan sewajarnya.
B
Setelah itu kita buat Fungsi baru bagaimana caranya?
klik kanan dan pilih New-> Integer.
lalu Beri nama “nglayout.initialpaint.delay” tanpa tanda kutip dan set value ke 0.
Fungsi DI atas Untuk memperpendek Waktu tunggu Browser untuk MEngunduh Informasi pada Halaman Web Yang kita kunjungi
Lainya sebenernya banyak tapi saya sarankan cukup menggunakan Langkan A dan B saja sudah terasa cepatnya Klo memang Kurang cepat berarti memang koneksi anda koneksi Butut :P eace:
Selamat mencoba!!!!


Sabtu, 14 Mei 2011

Bunda Iffet Tularkan Batik pada "SLANK"

Dalam pameran kain tradisional Indonesia koleksi Rahmi Hatta dan Raharty Subijakto tampak pula sosok manajer Slank, Bunda Iffet hadir di sana. Sebagai generasi tua, ibunda dari Bimbim Slank ini tahu benar bahwa saat era pemerintahan Presiden RI pertama, selalu mengenakan pakaian tradisonal. Dan ternyata bunda juga mempunyai banyak koleksi batik yang berumur hingga 50 tahun.
"Banyak, karena waktu perkawinan tahun 51 banyak hadiah kado, berarti usianya 50 tahun batik. Jadi memang suka dengan batik," ujarnya di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Senin (11/4) malam.
Bunda menyukai semua koleksi yang dia miliki. Dia juga mempunyai macam-macam batik maupun songket dari berbagai daerah. Bahkan kegemarannya untuk mengoleksi batik masih dia lakukan hingga saat ini.
"Sampai sekarang ke daerah saya selalu beli khas dari kota tersebut, sampai sekarang. Jadi bukan saja yang usia tua tapi produksi sekarang juga. Ternyata di Indonesia punya batik khas sendiri-sendiri, saya punya itu," papar Bunda yang paham betul akan batik.
"Ya tahu banget. Mana tulis atau cap, ada juga kombinasi," imbuhnya yang dididik sedari kecil untuk menyenangi batik.
Bunda juga menularkan kesenangannya akan batik kepada para personel Slank dan terkadang memakai di setiap acara khusus. Lalu dengan banyaknya koleksi yang dimiliki, apakah Bunda juga mempunyai keinginan untuk menggelar pameran?
"Mungkin. Sebetulnya harus gabungan dengan ibu-ibu atau siapa pun yang punya koleksi batik," tukasnya..

Sumber: Dari segala sumber

Lihat profil: Slank, Bimbim Slank